Indahnya Jawa Timur
Jumat, 27 Mei 2016
Sejarah singkat KOTAku, SIDOARJO.
Sidoarjo, mungkin tidak asing terdengar di telinga anda, kota yang terkenal dengan wisata lumpurnya ini berada di provinsi jawa timur, berbatasan langsung dengan kota surabaya,gresik,mojokerto dll.
Sebagai kota transit, sidoarjo bukanlah kota yang menjadi tujuan para wisatawan, dikarenakan minimnya informasi pariwisata yang ada di kota ini, semakin banyaknya jumlah penduduk sidoarjo yang ditandai sering macetnya di jalan-jalan tengah kota saat akhir pekan juga masih belum bisa mengangkat sektor pariwisata yang ada di kota sidoarjo ini.
Munculnya taman-taman kota yang tersebar di berbagai wilayah sidoarjo membuat kota ini menjadi semakin asri dengan sebagian besar adalah wilayah pertanian/persawahan.
Sidoarjo dulu dikenal sebagai pusat Kerajaan Janggala. Pada masa kolonialisme Hindia Belanda, daerah Sidoarjo bernama Sidokare, yang merupakan bagian dari Kabupaten Surabaya.
Daerah Sidokare dipimpin oleh seorang patih bernama R. Ng. Djojohardjo, bertempat tinggal di kampung Pucang Anom yang dibantu oleh seorang wedana yaitu Bagus Ranuwiryo yang berdiam di kampung Pangabahan. Pada 1859, berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 9/1859 tanggal 31 Januari 1859 Staatsblad No. 6, daerah Kabupaten Surabaya dibagi menjadi dua bagian yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokare.
Sidokare dipimpin R. Notopuro (kemudian bergelar R.T.P. Tjokronegoro) yang berasal dari Kasepuhan. Ia adalah putra dari R.A.P. Tjokronegoro, Bupati Surabaya.
Pada tanggal 28 Mei 1859, nama Kabupaten Sidokare yang memiliki konotasi kurang bagus diubah namanya menjadi Kabupaten Sidoarjo. Setelah R. Notopuro wafat tahun 1862, maka kakak almarhum pada tahun 1863 diangkat sebagai bupati, yaitu Bupati R.T.A.A. Tjokronegoro II yang merupakan pindahan dari Lamongan.
Pada tahun 1883 Bupati Tjokronegoro pensiun, sebagai gantinya diangkat R.P. Sumodiredjo pindahan dari Tulungagung tetapi hanya 3 bulan saja menjabat sebagai Bupati karena wafat pada tahun itu juga, dan R.A.A.T. Tjondronegoro I diangkat sebagai gantinya. Pada masa Pedudukan Jepang (8 Maret 1942 - 15 Agustus 1945), daerah delta Sungai Brantas termasuk Sidoarjo juga berada di bawah kekuasaan Pemerintahan Militer Jepang (yaitu oleh Kaigun, tentara Laut Jepang).
Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah pada Sekutu. Permulaan bulan Maret 1946 Belanda mulai aktif dalam usaha-usahanya untuk menduduki kembali daerah ini. Ketika Belanda menduduki Gedangan, pemerintah Indonesia memindahkan pusat pemerintahan Sidoarjo ke Porong. Daerah Dungus (Kecamatan Sukodono) menjadi daerah rebutan dengan Belanda.
Tanggal 24 Desember 1946, Belanda mulai menyerang kota Sidoarjo dengan serangan dari jurusan Tulangan. Sidoarjo jatuh ke tangan Belanda hari itu juga. Pusat pemerintahan Sidoarjo lalu dipindahkan lagi ke daerah Jombang. Pemerintahan pendudukan Belanda (dikenal dengan nama Recomba) berusaha membentuk kembali pemerintahan seperti pada masa kolonial dulu.
Pada November 1948, dibentuklah Negara Jawa Timur salah satu negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat. Sidoarjo berada di bawah pemerintahan Recomba hingga tahun 1949.
Tanggal 27 Desember 1949, sebagai hasil kesepakatan Konferensi Meja Bundar, Belanda menyerahkan kembali Negara Jawa Timur kepada Republik Indonesia, sehingga daerah delta Brantas dengan sendirinya menjadi daerah Republik Indonesia. (Sumber: wikipedia)
Kecamatan yang ada di Kabupaten Sidoarjo adalah:
1. Sidoarjo
2. Balongbendo
3. Buduran
4. Candi
5. Gedangan
6. Jabon
7. Krembung
8. Krian
9. Prambon
10. Porong
11. Sedati
12. Sukodono
13. Taman
14. Tanggulangin
15. Tarik
16. Tulangan
17. Waru
18. Wonoayu
Kota sidoarjo juga termasuk dalam kota yang berpengaruh di dalam perkembangan perekonomian jawa timur, dengan banyaknya ukm seperti usaha pembuatan tas kulit di tanggulangin, pembudidayaan ikan bandeng di sedati dan masih banyak lagi.
Sekian dulu informasi yang dapat saya sampaikan seputar kota sidoarjo, tunggu artikel-artikel lainnya tentang kota sidoarjo yaa...
Wassalam.
Selasa, 24 Mei 2016
Gunung Bromo
Gunung Bromo
Sekilas curhatan pengalaman perjalanan saya menuju gunung bromo, salah satu gunung aktif yang berada di provinsi jawa timur.
Gunung yang satu ini memang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat jawa timur ataupun diluar jawa timur karna fenomena alam yang sangat menakjubkan.
Perjalanan saya dimulai dari kota sidoarjo, untuk rute yang saya tempuh adalah melalui jalur tongas (yang saya tahu cuman jalur ini), jarak tempuh dari kota sidoarjo menuju ke tongas ada ±70 KM dengan waktu tempuh antara 1,5 - 2 jam saja (tergantung banyaknya istrhat dijalan atau enggak), jalur menuju tongas bukanlah jalur langganan macet jd jangan khawatir terlambat dalam perjalanan karna macet.
Untuk jarak tempuh dari tongas menuju lokasi wisata sendiri ±90 KM dengan waktu tempuh sekitar 2 - 3 jam, kondisi jalan dari sidoarjo - bangil (pasuruan) saja yang perlu di waspadai karena adanya jalan yang bergelombang, tapi setelah melewati kawasan bangil (pasuruan) jalanan akan terasa mulus mskipun gak semulus paha luna maya.
Jangan takut tersesat, karna selama perjalanan bisa di bantu oleh GPS, kalau yang gak ada GPS bisa mengandalkan plakat penunjuk arah yang sudah disediakan.
Setelah melewati daerah nguling/rumah makan nguling kurangilah kecepatan, karena 2 - 3 KM lagi adalah pintu masuk menuju lokasi wisata gunung semeru, plakat menuju lokasi wisata berada pada sisi kiri jalan.
Perjalanan dengan jalur menanjak akan dimulai saat anda memasuki daerah tongas, dengan jalan beraspal yang dikelililngi pemukiman warga, lama kelamaan udara dan pemandangan akan berubah seiring sudah semakin dekatnya ke lokasi.
Tips yang paling penting, isilah bahan bakar kendaraan anda dengan cukup karna disepanjang perjalanan tidak akan ditemui penjual bensin eceran, anda baru bisa menemui SPBU setelah ± 50 KM menempuh perjalanan. Bawalah baju hangat apabila anda alergi terhadap udara dingin.
Ada 2 pos penjagaan/pos tiket masuk menuju lokasi wisata, untuk biasa di pos kisaran 35.000 untuk 1 orangnya, sedangkan di pos kedua akan dikenai biaya kisaran 50.000 lebih (pastinya saya lupa).
Total biaya yang saya habiskan selama perjalanan :
- BBM Premium 70.000 PP (yamaha byson dengan bobot penumpang 150-200KG)
- Konsumsi u/ 2 orang 150.000 (saya lebih banyak nyemil di jalan)
- Tiket masuk 150.000 - 200.000 u/ 2 orang.
- ojek gunung pasir 50.000 PP (dari pos tiket sampai ke kawah)
Jadi total semuanya 470.000 u/ 2 orang, saya pakai ojek karna pengalaman saya yang belum pernah melewati ekstrimnya jalanan padang pasir yang sangat susah, karena mengendarai motor dengan boncengan sangatlah susah, jadi fungsi utama ojek adalah menunjukkan jalan mana saja yg bisa dilewati kendaraan R2 dan membonceng pasangan saya.
Apabila anda menggunakan kendaraan matic, waspadalah terhadap jalanan dipadang pasir yang sangat tebal akan pasir, jangan sampai anda terjebak ditengah padang pasir.
Untuk anda pengguna motor laki, kalau sudah memasuki areal padang pasir, pakailah gigi 1 dan 2 saja, dalam kondisi apapun jangan pakai kopling saat melewati padang pasir ini (cukup saat pindah gigi saja baru di pakai), karena semakin anda banyak menekan kopling, maka semakin cepat pula kampas kopling habis. Kalau anda sudah terjebak di tengah padang pasir dan tidak bisa keluar, maka siap-siaplah untuk merogoh kocek hingga 300rb untuk mengeluarkan kendaraan anda dari padang pasir.
Sekian dulu pengalaman perjalanan saya menuju gunung bromo. Nantikan perjalanan saya selanjutnya, maaf kalau artikelnya masih belepotan.
Salam
Sekilas curhatan pengalaman perjalanan saya menuju gunung bromo, salah satu gunung aktif yang berada di provinsi jawa timur.
Gunung yang satu ini memang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat jawa timur ataupun diluar jawa timur karna fenomena alam yang sangat menakjubkan.
Perjalanan saya dimulai dari kota sidoarjo, untuk rute yang saya tempuh adalah melalui jalur tongas (yang saya tahu cuman jalur ini), jarak tempuh dari kota sidoarjo menuju ke tongas ada ±70 KM dengan waktu tempuh antara 1,5 - 2 jam saja (tergantung banyaknya istrhat dijalan atau enggak), jalur menuju tongas bukanlah jalur langganan macet jd jangan khawatir terlambat dalam perjalanan karna macet.
Untuk jarak tempuh dari tongas menuju lokasi wisata sendiri ±90 KM dengan waktu tempuh sekitar 2 - 3 jam, kondisi jalan dari sidoarjo - bangil (pasuruan) saja yang perlu di waspadai karena adanya jalan yang bergelombang, tapi setelah melewati kawasan bangil (pasuruan) jalanan akan terasa mulus mskipun gak semulus paha luna maya.
Jangan takut tersesat, karna selama perjalanan bisa di bantu oleh GPS, kalau yang gak ada GPS bisa mengandalkan plakat penunjuk arah yang sudah disediakan.
Setelah melewati daerah nguling/rumah makan nguling kurangilah kecepatan, karena 2 - 3 KM lagi adalah pintu masuk menuju lokasi wisata gunung semeru, plakat menuju lokasi wisata berada pada sisi kiri jalan.
Perjalanan dengan jalur menanjak akan dimulai saat anda memasuki daerah tongas, dengan jalan beraspal yang dikelililngi pemukiman warga, lama kelamaan udara dan pemandangan akan berubah seiring sudah semakin dekatnya ke lokasi.
Tips yang paling penting, isilah bahan bakar kendaraan anda dengan cukup karna disepanjang perjalanan tidak akan ditemui penjual bensin eceran, anda baru bisa menemui SPBU setelah ± 50 KM menempuh perjalanan. Bawalah baju hangat apabila anda alergi terhadap udara dingin.
Ada 2 pos penjagaan/pos tiket masuk menuju lokasi wisata, untuk biasa di pos kisaran 35.000 untuk 1 orangnya, sedangkan di pos kedua akan dikenai biaya kisaran 50.000 lebih (pastinya saya lupa).
Total biaya yang saya habiskan selama perjalanan :
- BBM Premium 70.000 PP (yamaha byson dengan bobot penumpang 150-200KG)
- Konsumsi u/ 2 orang 150.000 (saya lebih banyak nyemil di jalan)
- Tiket masuk 150.000 - 200.000 u/ 2 orang.
- ojek gunung pasir 50.000 PP (dari pos tiket sampai ke kawah)
Jadi total semuanya 470.000 u/ 2 orang, saya pakai ojek karna pengalaman saya yang belum pernah melewati ekstrimnya jalanan padang pasir yang sangat susah, karena mengendarai motor dengan boncengan sangatlah susah, jadi fungsi utama ojek adalah menunjukkan jalan mana saja yg bisa dilewati kendaraan R2 dan membonceng pasangan saya.
Apabila anda menggunakan kendaraan matic, waspadalah terhadap jalanan dipadang pasir yang sangat tebal akan pasir, jangan sampai anda terjebak ditengah padang pasir.
Untuk anda pengguna motor laki, kalau sudah memasuki areal padang pasir, pakailah gigi 1 dan 2 saja, dalam kondisi apapun jangan pakai kopling saat melewati padang pasir ini (cukup saat pindah gigi saja baru di pakai), karena semakin anda banyak menekan kopling, maka semakin cepat pula kampas kopling habis. Kalau anda sudah terjebak di tengah padang pasir dan tidak bisa keluar, maka siap-siaplah untuk merogoh kocek hingga 300rb untuk mengeluarkan kendaraan anda dari padang pasir.
Sekian dulu pengalaman perjalanan saya menuju gunung bromo. Nantikan perjalanan saya selanjutnya, maaf kalau artikelnya masih belepotan.
Salam
Langganan:
Komentar (Atom)